Renungan Untuk Muslim Indonesia | Fadila Khairani


Bismilahiraahamaniraahim.
Assalamu`alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

Semoga penulis dan pembaca selalu dirahmati Allah dan dilindungi dari fitnah dunia, fitnah kubur, siksa kubur apalagi siksa api neraka, serta diampuni dosa-dosa yang kita sadari ataupun tidak.

Karena para ulama kerap berbicara bahwa kita tidak tahu amalan mana yang pada akhirnya menghantarkan kita ke surga sebagaimana kita tidak tahu dosa apa yang menyeret kita ke neraka, karena ajaibnya dosa adalah, ketika kita menganggapnya sebagai dosa kecil maka semakin besar dosa tersebut di mata Allah SWT.
Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap ringan, karena sesungguhnya dosa-dosa tersebut berkumpul pada diri seseorang sampai membinasakannya– (HR. Imam Ahmad)
Bertahun tahun belakangan, kemajuan teknologi memberi dampak begitu besar bagi masyarakat, tua-muda semua terkena dampaknya. Arus informasi menjadi begitu dahsyat, satu menit yang lalu gempa di Aceh, satu menit kemudian seluruh dunia tahu. Tentu hal ini menjadi bermanfaat bagi kita, dalam banyak hal. Entah itu mudah mendapat informasi yang dapat berupa ilmu pengetahuan, berita, bahkan info lowongan pekerjaan, namun juga bisa mendukung praktik penyebaran keburukan secara massif, seperti penyebaran “gossip”, “pemahaman salah”, “gambar/video yang haram dilihat mata kita”  yang semuanya bisa kita akses hanya dengan satu kali klik, bahkan di akun facebook kita sendiri. Ternyata semakin canggih dunia, semakin mudah pula akses kita menuju neraka.

Menyikapi hal ini tentu kita seorang muslim tidak boleh semerta-merta bersikap antipati pada teknologi, karena memang atas izin ALLAH SWT-lah pengetahuan manusia mampu mengembangkan IPTEK yang berdampak besar bagi kehidupan manusia. Kita tidak bisa memusuhi teknologi hanya karena dapat mendatangkan banyak kerugian dan tidak juga boleh memiliki pemahaman bahwa kecanggihan ini umumnya dihasilkan oleh orang non-muslim, maka tidak layak digunakan oleh seorang muslim. Justru yang harus kita lakukan adalah memanfaatkan situasi ini, situasi dimana “tulisan apapun” gampang laku di dunia maya.

Maka pada tulisan ini saya akan menuliskan keprihatinan saya karena saya juga pernah menjadi korban. Sesuatu yang menjadi penyebab semakin banyak contoh-contoh dosa terpajang dimana-mana, tanpa ada yang peduli, tanpa ada yang setidaknya berusaha bilang “saudaraku, hal yang kamu lakukan ini tidak baik”. Ya, saya akan membahas mengenai amar ma`ruf nahi munkar, yang apabila tidak dilakukan akan mendatangkan adzab kepada yang melakukan dan yang bungkam membiarkan. Adzabnya merata. Yang apabila tidak dilakukan maka makin banyak pemahaman islam netral yang melahirkan generasi dengan pemahaman menjalankan sunnah itu ekstrim bukan lagi kutamaan, atau bahkan mengerjakan sesuatu yang dilarang itu tidak masalah karena dulu kakak saya juga begitu, ibu saya juga begitu, teman-teman saya juga. 

Apakah sebenarnya maksud dari amar ma`ruf nahi mungkar? Mengapa penting?

Amar ma`ruf nahi mungkar adalah menyeru kebaikan dan mencegah dari berbuat keburukan (menegur). Bagaimana hukumnya bagi seorang muslim?

“Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran/pahala semisal ganjaran/pahala orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Dan barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun. (HR. Muslim)
Mengajak atau mengajarkan suatu kebaikan itu pahalanya besar. Misal kita ajak seseorang menutup aurat, maka seumur hidup ia menutup aurat maka kita mendapatkan pahalanya. Misal, kita ajarkan anak kecil mengaji, maka seumur hidup ia mengucapkan 1 huruf saja huruf hijaiyah itu, kita juga mendapatkan pahalanya. Sebaliknya, jika kita melakukan suatu keburukan walaupun tanpa disadari, dengan niat ataupun tidak untuk memberi contoh, maka kita akan memanen dosa orang yang melakukannya karena kita. Contoh paling sederhana, pacaran, lalu upload foto mesra sama pacar, dilihat adik-adik kita, kemudian dijadikanlah sebuah “relationship goal” yang bunyinya aja keren abis, tanpa tau dosanya juga keren. Atau, memajang foto dengan pakaian minim, atau maaf, ketat, model jilbab yang tidak memenuhi perintahNya, lalu dilihat banyak muslimah lain yang kebetulan juga belum baik pemahaman agamanya, maka ditirulah, dianggap sebagai “oh begituloh model jilbab yang tetep keren, elegan” yang bahkan subhanAllah banyak tutorialnya. Maka, orang tersebut akan panen dosa selama orang lain ikut melakukannya. (Mohon maaf, ini bukan kata saya, tapi kata Rasulullah SAW).

Oleh karena itu diciptakan ingkar munkarnya. Karena manusia itu penuh dengan kesalahan, tidak semua muslim berilmu, oleh itu yang berilmu memiliki kewajiban ’ingkar munkar”. Mengkoreksi kesalahan muslim lainnya. 

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Hukumnya bagaimana? Bisa dikatakan wajib, karena lihatlah hadits berikut, dimana perintah ingkar munkar ini diikuti dengan ancaman. Makah hal ini super serius.

“Sesungguhnya manusia apabila melihat seorang yang zhalim lalu tidak mencegahnya, makaAllah akan meratakan adzab kepada mereka semua. (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Mengerikan jika ingkar munkar itu hilang, seperti yang terjadi sekarang. Setelah saya renungi, bobroknya moral generasi muda bisa jadi diakibatkan oleh kurangnya ingkar munkar. Yang hanya dianggap sebagai tugas ulama, tugas pak ustadz. Padahal, ini adalah tugas semua muslim. Dalam hadits ini tidak dikatakan “wahai ustadz cegahlah”. Tidak. Ini tugas semua muslim terhadap muslim lainnya.
Mengajak kepada kebaikan, apabila tidak dilakukan ia tidak berdosa, hanya rugi pahala. Tapi kalau ingkar munkar tidak dilakukan, maka ia diancam oleh adzab Allah SWT, sebaik apapun amalannya.
Kenapa ingkar munkar tugas semua orang? Bukan ustadz saja? Karena, ustadz tidak selalu ada disamping kita, belum tentu menyaksikan kemunkaran setiap muslim. Pun kalau ustadz memberi ceramah, yang datang adalah orang-orang yang betul-betul ingin mencari ilmu, yang memang merasa butuh. Lalu bagaimana muslim lain yang jauh dari “kajian” ? Muslim yang memang kebetulan lahir dari keluarga yang beragama hanya sebatas idul fitri. Belum paham betul tentang mana yang boleh dan mana yang tidak. Terlebih lagi para remaja, yang belum sepenuhnya kritis, dan fase yang paling mudah diseret-seret oleh pengaruh buruk budaya barat. Maka ketika semua muslim menjalankan tugasnya untuk ingkar munkar, maka yang melakukan kesalahanpun akan ditegur oleh banyak muslim lainnya, dikeroyoki oleh ilmu agama yang benar, sehingga proses perbaikannya pun insyaAllah lebih hebat dan cepat. Bukan seperti yang terjadi sekarang.
Dan, yang benar-benar jadi perhatian saya saat ini adalah, bungkamnya kita terhadap zina yang sudah merajalela di sekitar kita. Kita memilih bungkam tanpa tahu bahwa adzab untuk kita sudah menanti. Kita memilih membiarkan mereka tetap melakukannya tanpa merasa bersalah, tanpa ada lagi rasa malu. Ternyata orang-orang berilmu, dan paham agama akan tetapi selalu diam, yang membuat merosotnya moral islam generasi sekarang. Tanpa adanya teguran-teguran lagi, sehingga menjadi hal yang lumrah. Oh biasa, anak muda mah. Nikmatin dulu aja, muda cuma sekali.

Padahal ancaman Allah SWT sangat jelas.
Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri
(HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).
Maka kita termasuk kedalam golongan yang menghalalkan adzab Allah SWT atas kita, dan kita betul-betul tidak bisa merasa aman terhadap hal ini.

Maka, Sudah saatnya kita peduli. Karena kerusakan itu menyebar bukan karena banyaknya orang-orang tidak paham agama, karena percayalah yang berilmu juga tak kalah banyak, tapi kerusakan itu menyebar karena diamnya orang-orang pintar, tidak pedulinya orang-orang berilmu.

Maka sudah saatnya kita menggalakkan teguran, membangun kembali rasa malu di generasi muda, yang harus dimulai tentu dari seseorang beranjak dewasa. Maka selamatkanlah generasi berikutnya. Sudah saatnya membudayakan islam lebih massif ketimbang budaya barat. Sudah saatnya para om tante, orang tua, menegur anaknya, keponakannya, adiknya, saudaranya. Tegurlah ketika ia terlihat tidak malu ketika foto bermesraan dengan lawan jenis. Bersikap layaknya suami-istri padahal sedang menempuh jalan yang buruk.
“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)
Buatlah potongan ayat ini menjadi seruan bermakna, bukan hanya tulisan biasa. Jangan sampai lebih banyak yang taubat kemudian karena ingkar munkar yang terlambat. Sebaiknya dicegah sejak awal.
Maka, berhentilah hanya prihatin pada fenomena anak SD zaman sekarang bisa pajang foto pelukan dan ciuman. Karena barangkali, itu salah kita.

Semoga setelah kita menggalakkan amar ma`ruf nahi munkar dengan massif akan lahir generasi muda yang memiliki pemahaman bahwa kita tidak bisa hidup selain dengan cara ISLAM. Islam is the way of life. Al-Qur`an dan Hadits itu adalah manual book kehidupannya, bukan bersumber dari gaya hidup yang sedang tren. Bukan mengikuti sesuatu karena banyak orang yang melakukannya. Semoga adzab yang Allah SWT ancamkan itu tidak jadi didatangkan di negeri kita ini.


Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini. Pun saya secara pribadi tidak serta merta bersih dari dosa, pun saya juga dulu pernah termasuk ke dalam anak muda yang acuh dengan surat al-isra ayat 32 itu. Saya juga bersedia untuk diajak berdiskusi langsung via komen atau secara personal di email fadila.khairani12@gmail.com, dan sangat bersedia jika ada yang ingin mengkoreksi dan menambahkan. Dan tidak menerima ucapan “urus saja agamamu sendiri” karena sungguh saya takut yang mengucapkannya dimurkai Allah SWT.

“Sesungguhnya termasuk dosa besar, jika seseorang menasehati saudaranya “bertakwalah kepada Allah SWT”, lalu ia mennjawab dengan “urus saja dirimu sendiri”. (HR. Thabrani)

Wassalamu`alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

FKG - Universitas Indonesia
Tag : ISLAM
0 Komentar untuk " Renungan Untuk Muslim Indonesia | Fadila Khairani"

Budayakan Komentar dan Saran yang baik :)

Back To Top